Skandal Minyak Dunia Berakhir? Harga Brent Turun ke 100 Dolar, Emas Jadi Primadona

Harga Emas Antam Rabu 14 Januari 2026 Masih Stabil
Ilustrasi Emas. (dok. BRI)

Faktakendari.id — Kilau logam mulia kembali membius pasar global pekan ini. Merujuk pada pembaruan data bursa komoditas pada Rabu (6/5/2026), harga emas sukses mencatatkan lonjakan tajam hingga menyentuh level tertingginya sejak akhir April lalu. Katalis utama di balik reli ini adalah sentimen positif terkait potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Isu geopolitik tersebut seketika meredam kepanikan investor atas ancaman inflasi kronis. Pada penutupan perdagangan, emas di pasar spot terpantau melambung 2,8 persen dan bertengger di posisi 4.685,23 Dolar AS per ons. Sementara itu, emas berjangka AS kontrak Juni meroket ke level 4.694,30 Dolar AS per ons.

Dampak Pelemahan Dolar dan Penurunan Harga Minyak

Pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) sebesar 0,4 persen turut memperkuat daya tarik emas. Analis dari Zaner Metals, Peter Grant, menyebut sinyal perdamaian Washington-Teheran memberikan ketenangan pasar yang luar biasa.

Efek dominonya meliputi:

  • Harga Minyak: Patokan Brent meluncur turun mendekati 100 Dolar AS per barel.

  • Inflasi: Ekspektasi inflasi anjlok, mengurangi tekanan terhadap Federal Reserve untuk menahan suku bunga tinggi.

  • Daya Tarik Aset: Emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang asing di tengah pelemahan greenback.

Logam Mulia Lainnya Ikut Melesat

Angin segar perdamaian ini juga memoles harga komoditas logam lainnya yang bergerak lebih agresif pada sesi yang sama:

  • Perak: Melesat 6 persen menembus angka 77,16 Dolar AS per ons.

  • Platinum: Melompat 4,7 persen menjadi 2.044,00 Dolar AS per ons.

  • Paladium: Naik meyakinkan sebesar 3,3 persen ke level 1.535,00 Dolar AS per ons.

Kondisi ini mencerminkan optimisme investor terhadap stabilitas global yang berdampak langsung pada penguatan aset-aset aman (safe haven).

*(Drw)