Faktakendari.id — Awan mendung ketidakpastian geopolitik global yang diprediksi masih membayangi pasar sepanjang tahun 2026 nyatanya belum mampu menggoyahkan ketangguhan ekonomi domestik. Indonesia membuktikan resiliensi fundamentalnya dengan mencetak angka pertumbuhan impresif sebesar 5,61 persen pada kuartal pertama.
Pencapaian ini tidak lepas dari kinerja perbankan yang ekspansif, dibuktikan lewat laju penyaluran kredit yang nyaris menyentuh dua digit di angka 9,98 persen, serta pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang melesat hingga 11,4 persen. Merespons tren positif ini, Bank Indonesia (BI) terus mematangkan instrumen makroprudensial yang akomodatif guna menjaga ritme ekspansi di era suku bunga tinggi.
Analogi Bendungan Likuiditas dan Suntikan KLM Rp424 Triliun
Pejabat Eksekutif Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Dhaha P. Kuantan, memberikan analogi menarik tentang arsitektur kebijakan moneter ini yang menyerupai sistem tata kelola bendungan air. Menurutnya, Giro Wajib Minimum (GWM) adalah bendungan utama tempat likuiditas ditahan. Melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), dana tersebut dialirkan kembali secara selektif ke sektor produktif.
“Likuiditas ini boleh disalurkan kembali asalkan dialokasikan secara presisi ke sektor-sektor pengungkit yang memiliki dampak multiplier besar,” tegas Dhaha.
Tercatat, hingga kuartal ini, suntikan likuiditas lewat skema KLM telah mencapai Rp424 triliun, atau setara dengan 4,76 persen dari total DPK nasional. Langkah pelonggaran ini menyusul keputusan BI menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin pada Rabu, 20 Mei 2026, dengan menyertakan tiga jalur insentif baru.
Transisi Indikator RIM dan Peluncuran Program PINISI
Dalam rangka menjaga fleksibilitas perbankan, BI kini resmi menggeser indikator ukur kapasitas intermediasi dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yang dinilai kaku, menuju Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM). Formulasi RIM yang mengintegrasikan Surat Berharga (SSB) memberi napas segar bagi eksekutif bank dalam mengelola neraca keuangan mereka secara lebih modern.
Namun, melimpahnya pasokan likuiditas di pasar tentu membutuhkan daya serap yang maksimal dari sektor riil. Oleh karena itu, BI meluncurkan inisiatif Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) untuk mengatasi berbagai hambatan pada proyek-proyek strategis. Sinergi antara ketersediaan dana segar dari perbankan dan inovasi proyek sektor riil yang bankable kini menjadi kunci utama penggerak roda ekonomi tanah air.
*(Drw)











