faktakendari.id, INTERNASIONAL – Upaya damai antara Thailand dan Kamboja kembali mengalami kebuntuan. Konflik Thailand-Kamboja yang telah berlangsung lama belum menunjukkan tanda mereda, meskipun telah difasilitasi oleh Malaysia dengan dukungan ASEAN, Amerika Serikat, dan Tiongkok.
Pertemuan yang direncanakan berlangsung di Kuala Lumpur tak berjalan mulus. Sebelum dialog dimulai, kedua pihak kembali saling mencurigai niat satu sama lain.
Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menekankan bahwa pertemuan ini seharusnya fokus pada tercapainya gencatan senjata segera. Namun, Penjabat PM Thailand, Phumtham Wechayachai, menyatakan keraguan terhadap itikad baik dari Kamboja.
“Tindakan mereka belum mencerminkan keseriusan untuk berdamai,” ujar Phumtham.
Situasi semakin rumit karena kedua negara saling melontarkan tuduhan, termasuk pelanggaran hukum internasional dan serangan terhadap warga sipil. Ini memperlihatkan adanya krisis kepercayaan yang masih sangat dalam.
Konflik Thailand-Kamboja bermula dari sengketa kuil Preah Vihear yang diputuskan Mahkamah Internasional pada tahun 1962. Sejak saat itu, bentrokan sporadis terus terjadi. Pada Juni 2025, Kamboja membawa sengketa perbatasan ke forum internasional. Namun, upaya tersebut ditolak oleh Thailand, yang lebih menginginkan penyelesaian secara bilateral.
Dengan garis perbatasan sepanjang 817 km, gesekan masih rawan terjadi, terutama di wilayah-wilayah seperti Ta Moan Thom dan Preah Vihear.
Hingga kini, belum ada kesepakatan konkret yang tercapai. Konflik Thailand-Kamboja tampaknya akan terus berlanjut jika tidak ada rekonsiliasi sejarah yang sungguh-sungguh dan pemulihan kepercayaan antarnegara.
Dukungan dari aktor global dan kepemimpinan ASEAN diharapkan bisa menjadi kunci tercapainya solusi. Namun, jika krisis kepercayaan tak segera diatasi, konflik perbatasan ini berpotensi menjadi konflik berkepanjangan.













