Dampak Geopolitik Timur Tengah, Investor Ramai Borong Aset Safe Haven Emas

Harga Emas Antam Rabu 14 Januari 2026 Masih Stabil
Ilustrasi Emas. (dok. BRI)

Faktakendari.id – Pasar logam mulia sedang membara. Tren positif harga emas terus berlanjut hingga mencatatkan rekor baru dalam beberapa bulan terakhir. Kombinasi antara fluktuasi mata uang global dan dinamika geopolitik di Timur Tengah menjadi motor utama yang mendorong investor kembali memborong aset safe-haven ini guna mengamankan nilai aset mereka.

Mengutip laporan Reuters pada Kamis (2/4/2026), harga emas di pasar spot melonjak drastis sebesar 2,5 persen ke angka 4.784,22 Dolar AS per ons pada penutupan perdagangan Rabu. Ini merupakan titik tertinggi sejak pertengahan Maret lalu. Tidak ketinggalan, emas berjangka AS juga meroket 2,9 persen dan bertengger di posisi 4.813,10 Dolar AS per ons.

Pelemahan Dolar AS Picu Lonjakan Permintaan

Pelemahan nilai tukar Dolar AS selama dua hari berturut-turut membuat emas menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain. Alhasil, permintaan dari pasar global meningkat tajam dan mendorong grafik harga ke zona hijau secara konsisten. Kondisi ini dimanfaatkan oleh para pelaku pasar untuk melakukan akumulasi beli di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Fokus investor kini tertuju pada spekulasi de-eskalasi konflik di Selat Hormuz. Meski masih ada bantahan dari pihak Iran terkait klaim gencatan senjata, pasar tetap menunjukkan optimisme yang tinggi terhadap potensi perdamaian di kawasan tersebut yang dapat menstabilkan harga energi dunia ke depan.

Potensi Emas Menembus 5.000 Dolar AS

Analis Senior Bob Haberkorn memprediksi emas berpotensi menembus level psikologis 5.000 Dolar AS jika tren perdamaian ini membuka peluang penurunan suku bunga oleh The Fed. Jika inflasi mereda akibat turunnya harga energi, emas diprediksi akan semakin berkilau sepanjang tahun 2026 karena daya tarik investasinya yang stabil.

Saat ini, logam mulia lainnya seperti perak dan platinum juga terpantau kompak menguat mengikuti jejak emas. Para investor disarankan untuk tetap mencermati rilis data ekonomi Amerika Serikat dan perkembangan terbaru di Timur Tengah, mengingat sensitivitas harga emas terhadap isu-isu geopolitik dan kebijakan moneter global sangatlah tinggi.

*(Drw)