Soroti Inefisiensi Birokrasi, Haidar Alwi Sebut Angka ICOR Jadi Penghambat Laju Ekonomi

Polemik Perpol 25/2025: Haidar Alwi Soroti Kesalahan KRP
Pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, R. Haidar Alwi/Dokpri.

Faktakendari.id – Selama dua dekade terakhir, ekonomi Indonesia bergerak stabil namun lamban di kisaran 5 persen. Cendikiawan Nasional sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, R. Haidar Alwi, menilai target pertumbuhan 8 persen yang dicanangkan pemerintah bukan sekadar angka ambisius, melainkan sebuah tuntutan lompatan struktural.

Dalam opininya yang diterima redaksi, Rabu (25/3/2026), Haidar menekankan bahwa konsumsi rumah tangga memang efektif menjaga mesin ekonomi tetap berderu, namun tidak cukup untuk memacunya melaju lebih kencang. Untuk mencapai angka 8 persen, Indonesia harus berani merombak fundamental ekonomi melalui lima pilar utama.

Pangkas Inefisiensi dan Dorong Investasi

Pilar pertama adalah lonjakan investasi drastis. Haidar menyoroti angka ICOR (Incremental Capital Output Ratio) Indonesia yang masih berada di kisaran 6, menunjukkan inefisiensi tinggi.

“Tanpa perbaikan birokrasi dan pemberantasan korupsi untuk menekan ICOR di bawah 4, investasi sebesar apa pun akan menguap sebelum memacu mesin ekonomi,” tulisnya.

Pilar kedua dan ketiga mencakup industrialisasi nyata dan orientasi ekspor. Strategi hilirisasi harus bertransformasi menjadi manufaktur bernilai tambah tinggi seperti elektronik dan permesinan. Indonesia juga perlu mengubah orientasi ekonomi yang selama ini terlalu ke dalam (inward-looking) menjadi pemain utama di pasar global.

Produktivitas Kerja dan Reorientasi Fiskal

Pilar keempat adalah akselerasi produktivitas tenaga kerja agar bonus demografi tidak terbuang sia-sia di sektor informal. Terakhir, Haidar mendorong reorientasi kebijakan fiskal di mana APBN harus menjadi mesin pendorong sektor produktif seperti riset dan teknologi, bukan sekadar bantalan konsumsi atau bantuan sosial.

Haidar menyimpulkan bahwa stabilitas pertumbuhan 5 persen selama 20 tahun terakhir kini menjadi “batas tak terlihat” yang membelenggu potensi bangsa. Indonesia butuh keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan membangun mesin baru yang mampu melaju dua kali lebih cepat demi mencapai target pertumbuhan ekonomi yang fenomenal.

(*Drw)