Faktakendari.id – Pemerintah Indonesia berencana membangun tangki penyimpanan minyak baru berkapasitas 90 hari sebagai cadangan strategis menghadapi krisis energi masa depan. Namun, keterlibatan investor swasta dalam pembangunan dan pengelolaannya memicu pertanyaan mendasar dari pengamat sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, R. Haidar Alwi.
Haidar Alwi menyoroti apakah tangki tersebut benar-benar berfungsi sebagai “tameng energi” negara atau hanya fasilitas komersial untuk bisnis penyimpanan minyak. Analisis yang disampaikan pada Jumat (13/3/2026) ini menekankan bahwa perbedaan tersebut memiliki implikasi besar bagi ketahanan energi nasional.
Logika Keamanan Nasional vs Investasi
Dalam praktik global, cadangan minyak strategis harus dibangun dengan logika keamanan nasional. Negara wajib memiliki kendali penuh karena fungsinya adalah menstabilkan pasokan domestik saat terjadi guncangan global, seperti konflik di Selat Hormuz. Haidar mencontohkan Amerika Serikat yang mengelola cadangan minyaknya secara penuh melalui kementerian energi mereka.
“Masalah muncul ketika pemerintah menyebut investor sudah ada, namun skema kepemilikan dan penguasaan cadangan belum jelas. Publik butuh kepastian apakah ini benar cadangan negara atau hanya terminal sewa bagi trader internasional,” ujar Haidar Alwi.
Risiko Kontrak Komersial Saat Krisis
Haidar memperingatkan jika fasilitas tersebut didominasi skema komersial, negara tidak otomatis memiliki hak akses saat krisis terjadi. Pemerintah berisiko terjebak pada kontrak bisnis dan dinamika harga pasar sebelum bisa menyentuh minyak di dalam tangki tersebut. Kepentingan pasar dikhawatirkan akan lebih dominan dibanding kepentingan keamanan energi.
Ia menegaskan bahwa ketahanan energi tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Tanpa kontrol negara yang cepat dan tegas, pembangunan infrastruktur ini hanya akan menjadi proyek investasi biasa. “Saat krisis datang, yang dibutuhkan negara bukan sekadar tangki penyimpanan, melainkan kendali penuh atas isinya,” pungkas Haidar.
(*Drw)











