Penyakit Pascabencana Sumbar: ISPA Tertinggi, Kemenkes Waspada DBD, Diare, dan Leptospirosis

ISPA Tertinggi, Kemenkes Identifikasi 10 Penyakit Pascabencana Sumbar
Tim kesehatan saat memberikan pelayanan medis kepada warga di pos pengungsian untuk mengantisipasi penyebaran penyakit pascabencana di wilayah Sumatera Barat, Jumat (5/12). Foto: HO/Faktakalbar.id

Faktakendari.id, NASIONAL – Penanganan sektor kesehatan terus digencarkan untuk mengantisipasi potensi lonjakan penyakit pascabencana di wilayah terdampak Sumatra Barat (Sumbar). Berdasarkan pemantauan periode 25 November hingga 2 Desember 2025, sejumlah penyakit mulai teridentifikasi menjangkiti warga di pos pengungsian.

Pusat Krisis (Puskris) Kementerian Kesehatan merilis sepuluh Penyakit Pascabencana Sumbar terbanyak yang ditemukan di tengah masyarakat.

Data 10 Penyakit Terbanyak di Posko Pengungsian

Kasus ISPA Tertinggi Sumbar memimpin daftar kasus kesehatan yang ditangani:

No.PenyakitJumlah Kasus
1Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)181 kasus
2Demam131 kasus
3Darah Tinggi103 kasus
4Infeksi Kulit79 kasus
5Alergi54 kasus
6Flu43 kasus
7Nyeri Otot34 kasus
8Sakit Kepala32 kasus
9Vertigo30 kasus
10Asam Lambung28 kasus

Antisipasi Penyakit Lingkungan dan Pasien Kronis

Selain penyakit yang sudah muncul, Puskris dan Dinas Kesehatan Sumbar meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi penyakit berbasis lingkungan dan zoonosis (bersumber dari hewan). Ancaman tersebut meliputi diare, malaria, Demam Berdarah Dengue (DBD), chikungunya, campak, difteri, pertusis, hingga leptospirosis.

Kepala Bidang SDK Dinas Kesehatan Sumbar, Saiful Jamal, menjelaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan kualitas sanitasi dan ketersediaan air bersih bagi para pengungsi.

“Tim kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan telah turun ke lapangan. Tim ini memantau potensi kondisi yang dapat memicu terjadinya penyakit di tengah masyarakat di wilayah kabupaten dan kota terdampak,” ujar Saiful.

Saiful, yang juga menjabat sebagai Ketua Health Emergency Operation Center (HEOC), memberikan imbauan khusus bagi warga yang memiliki kondisi kesehatan tertentu atau penyakit kronis.

“Kondisi sekarang masyarakat dengan perawatan khusus, pasien dengan obat rutin segera melapor ke puskesmas, pustu, bidan desa untuk melaporkan pasien khusus dapat terlayani,” pesan Saiful.

Mobilisasi Tenaga Medis dan Bantuan Logistik

Guna memperkuat layanan, HEOC telah diaktifkan di tingkat provinsi untuk mengoordinasikan tenaga kesehatan. Puskris juga memobilisasi Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) dari regional Sumbar dan luar daerah. Bantuan tenaga medis didatangkan dari RSU Dadi Makassar untuk diperbantukan ke RSUD Sikaping dan RSUD Lubuk Basung.

Hingga Kamis (4/12), data Pos Pendamping Nasional mencatat lebih dari 22.824 warga masih mengungsi di 13 kabupaten dan kota. Upaya pencegahan penyakit pascabencana menjadi prioritas agar kondisi para pengungsi tidak semakin memburuk.

(*Drw)